Skandal Foto Tempo

Skandal Foto Tempo
Oleh
Sudaryono Achmad

Bukan apa yang mereka katakan, melainkan apa yang
mereka tidak katakan”

(Jerry D. Gray)

Pasca Tragedi Monas, Tempo memuat Foto Munarman sedang mencekik seseorang dengan keterangan “Munarman sedang mencekik seorang peserta aksi AKK-BB”. Bagi Tempo, pemuatan foto tersebut barangkali sebuah prestasi tersendiri, terutama bagi wartawan foto yang berhasil memotret dengan momentum yang pas. Dengan pemuatan foto tersebut seolah-olah Tempo ingin memberikan “Bukti Nyata” bagaimana kekerasan dilakukan oleh Komando Laskar Islam, dalam hal ini Munarman sebagai Panglimanya.



Sayang, ternyata foto tersebut FITNAH belaka. Foto yang terlanjur dimuat di beberapa media seperti Indopos, Detik com dan beberapa media lainnya tersebut berbicara lain. Faktanya, bukan anggota AKK-BB yang dicekik. Tapi justru anggota FPI bernama Ponco Alias, Ucok Nasrullah. Dalam Jumpas pers pasca tragedi Monas, FPI membeberkan fakta bahwa Munarman justru bersikap sebaliknya, mencegah Ponco agar tidak bertindak anarkis. Atas, KESALAHAN NYATA tersebut akhirnya Tempo meminta maaf dan mengaku kecolongan dengan pemuatan foto tersebut.

Dalam kasus ini, publik harus mempertanyakan kembali reputasi Tempo yang kerap gembar-gembor dengan slogan “Terpercaya” dan “Jurnalisme Investigasinya”. Publik mesti kritis, dengan mempertanyakan kembali informasi-informasi yang disebarkan Tempo. Terutama pemberitaan pemberitaan tentang Islam diluar “Islam Moderat” dan “Islam Liberal”. Alasan tegasnya, kita tahu bagaimana latar belakang media ini. Dari latar belakang orang-orang yang berada di dalamnnya, jelas sudah politik media yang dimainkan. Lebih condong kepada kebebasan dan pemujaaan “Sekularisme”. Singkatnya, pemberitaan Tempo mengenai berbagai problem “Umat Islam” patut disikapi kritis (baca dicurigai). Bisa jadi konspirasi dan skenario global akan mewarnai setiap pemberitaan untuk memojokkan gerakan Islam.

Soal foto tersebut bukan persoalan sepele. Bayangkan saja misalnya kaum akademisi, peneliti atau kolumnis asing menjadikan foto tersebut sebagai pembenaran dan bukti-bukti mengenai “Kekerasan oleh kelompok Islam” dalam setiap karya (tulisan) maupun analisis yang mereka hasilkan. Foto tersebut pada dasarnya berpotensi untuk DISALAHGUNAKAN sebagai fererensi yang keliru. Belum lagi ternyata Tempo cukup pengecut dengan hanya “Minta maaf” dan tidak cukup berwibawa misalnya memberhentikan redaktur yang bertanggungjawab atas pemuatan foto tersebut.

Akhirnya, publik meski belajar banyak atas skandal foto Tempo ini. Kita meski mengakhiri mitos Tempo yang “Terpercaya”. Bagi kaum muda (muslim) yang ingin mempelajari jurnalisme, memang masih tetap perlu belajar dari Tempo misalnya gaya dan rasa penulisan. Namun, tentang soal “Framing” (bingkai) berita dan keberpihakan, jelas Tempo bukan media yang bagus sebagai rujukan apalagi untuk konsumsi dan legitimasi dalam berargumentasi.

Dengan demikian, kita bisa belajar banyak mengenai kasus skandal foto Tempo ini, terutama dalam ranah jurnalistik. Secara makro belajar tentang kejujuran dan keperpihakan dan secara mikro belajar untuk cek and ricek agar tidak “kecolongan” untuk memberitakan maupun membuat informasi ( foto) yang keliru kepada publik.

*Penulis adalah pengamat media. Aktivis Communicare Institute (CoIn) Jakarta.

~ by jurnal komunikasi on July 12, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: